Asalamu'alaikum wr wb.
Pada hari jum'at 29 mei 2015
yang penuh barokah ini, ijinkan saya untuk sharing beberapa pengalaman
hidup sebagai acuan kita agar kita selalu bersyukur kepada Allah atas
semua nikmat dan karuniaNYA yang telah diberikan kepada kita hingga saat
ini juga..
Tanpa banyak basa basi lagi, pengalaman ini berawal
pertemuan saya dengan seorang wanita.. Wanita tersebut telah membuat
saya jatuh hati kepadanya, bahkan hingga saat ini.. Hubungan kami pun
berlanjut hingga level yang dimana orang-orang jaman sekarang
menyebutnya dengan nama PACARAN.. memang pada saat itu kita hanya
berkomitmen untuk bisa berhubungan dengan serius.. saat itu pun komitmen
serius yang dimaksud bertujuan untuk bisa melangkah ke tahap selanjutnya,
namun mengingat umur dia yang masih muda dan saya sendiri yang masih
berusaha merintis pekerjaan, jadi kita sepakat untuk tidak memikirkan
itu terlalu jauh..
Nah, inti permasalahan pun
terjadi.. Berawal dari perasaan saya yang sudah terlampau dalam, secara
tidak sadar saat itu perlahan saya melupakan Allah sebagai sang pencipta
dan pemberi segala nikmat, anugerah, dan karunia yang saya dapatkan
saat itu serta baru saya sadari kesalahan saya tersebut setelah konflik
terjadi dalam hubungan saya dengan wanita tersebut.. Awalnya hubungan
kami berjalan sangat harmonis, hari-hari yang telah kami lalui pun
terasa sangat indah.. Namun saat itu saya tidak bersyukur, sekali lagi
saya tekankan saat itu saya tidak bersyukur bukan hanya sekedar kurang
bersyukur.. saya selalu merasa kurang dan kurang, hingga saya merasa
bahwa dia adalah segalanya untuk saya.. hingga akhirnya Allah menguji
saya dengan memberikan jarak diantara kami.. saya dengan kesibukan saya,
dan dia dengan kesibukannya sehingga membuat kami jarang bertemu atau
susah untuk bertemu.. akan tetapi komunikasi antara kami masih bisa
terus berlangsung.. Andaikan saat itu saya masih bisa bersyukur mungkin
konflik tidak terjadi, namun saat itu saya tidak bersyukur, yang ada
hanya rasa ketakutan jikalau saya akan kehilangan dia, sehingga
bermunculanlah pikiran-pikiran negatif yang membuat saya akhirnya
banyak menuntut kepadanya dan yang lebih parah saya malah menilai Allah
tidak adil kepada saya.. akhirnya dia mulai merasa tidak nyaman dengan
sikap saya dan mulai mencari alasan agar bisa berpisah dengan saya, itu
pun masih menurut pemikiran saya hingga saat ini.. Alasan fisik yang
hingga saat ini menurut saya tidak masuk akal pun menjadi alasan utama
hubungan kami berakhir.. saat pertama kali dia mengatakan hal itu, malah
membuat saya semakin murka kepada sang pencipta, saya selalu
marah-marah dalam hati dan mengumpat kepada Allah kenapa saya harus
dilahirkan dengan banyak kekurangan termasuk wajah saya yang mungkin
menurut orang-orang pas-pasan atau bisa dikatakan jelek.. hingga
beberapa hari yang lalu pun saya masih menganggap bahwa Allah tidak adil
kepada saya, sampai akhirnya Allah mempertemukan saya dengan seseorang
yang bisa memberikan pencerahan kepada saya sehingga saya bisa
mendapatkan hidayah untuk bisa mengambil hikmah dari semua kejadian yang
telah terjadi..
Sekarang saya benar-benar merasa
bersyukur atas apa yang ada dalam diri saya.. andaikan saat itu Allah
murka terhadap saya, lalu mencabut nyawa saya saat itu, mungkin akhir
dari hidup saya dalam keadaan penuh kekufuran.. Namun Allah masih sayang
kepada saya, dan memberikan jalan kepada saya untuk dapat mengambil
hikmah dari semua yang telah terjadi.. Penilaian orang lain terhadap
saya tentang fisik saya seperti jelek, hitam, tua (muka boros), gendut
dan "hidup lagi" itu, yang pada awalnya menurut saya adalah kelemahan yang
saya sesalkan, kini saya dapat bersyukur.. Karena apa? Karena dibalik
itu semua ada nikmat teramat sangat yang harus benar-benar saya
syukuri.. nikmat yang menurut sebagian orang beranggapan itu sepele,
namun menurut saya itu amat sangat berharga, yaitu nikmat dimana saya
masih memiliki dua buah mata yang masih dapat melihat, dua buah telinga
yang masih dapat mendengar, hidung yang masih dapat mencium aroma dan
beraneka macam bau, mulut yang masih bisa berbicara, kedua tangan yang
masih bisa untuk menggenggam, dan kedua kaki yang masih bisa untuk
melangkah/berjalan.. banyak orang-orang diluar sana yang telah Allah
cabut salah satu atau bahkan semua nikmat itu, entah karena Allah ingin
mengujinya dengan cobaan seperti itu atau karena Allah memberikan azab
kepada dia atas apa yang telah ia lakukan semasa masih memperoleh nikmat
itu..
Selain itu tentu masih banyak nikmat-nikmat yang
menurut sebagian orang dianggap sepele, seperti nikmat bernafas, nikmat
bersin, nikmat (maaf) kentut, dan lain-lainnya.. Dari situ saya belajar
bahwa kita harus bersyukur terhadap semua nikmat yang Allah berikan
kepada kita walau itu merupakan hal yang terkecil atau sepele.. Semakin
kita melupakan nikmat-nikmat tersebut, maka secara perlahan tapi pasti
itu akan mejauhkan kita dari Allah, dan semakin kita bersyukur sekecil
apapun nikmat yang Allah berikan kepada kita, niscaya Allah akan
memberikan nikmat yang berlipat-lipat lagi..
Untuk kamu
yang pernah singgah di hati aku, yang sampai saat ini pun masih ada di
hatiku, terima kasih karena sudah memberikan pelajaran yang sangat
berharga untuk aku.. Mungkin ini adalah cara dan kehendak Allah agar
kita bisa memetik hikmah dari setiap kejadian yang pernah terjadi dalam
hidup kita, dan yang terpenting adalah jangan pernah lupa untuk terus
selalu bersyukur atas semua nikmat yang telah Allah berikan kepada kita
sekecil apapun nikmat yang kita peroleh saat ini.. Hidup penuh bersyukur
adalah salah satu cara menuju hidup penuh berkah...
Demikianlah
kiranya pelajaran atau pengalaman hidup saya yang bisa saya sharing
kepada kawan-kawan saya semua.. semoga bermanfaat untuk hidup kita ke
depannya... Amiin Ya Rabbal'alamin...
Wasalamu'alaikum wr wb.
Taufik Wahyu Hidayat







