Kamis, 02 Januari 2014

Tsunami Dahsyat 2004 Mengungkap Misteri "Seven Pagodas" yang Telah Lama Hilang

    Sebelum akhir 2004, semua bukti tentang keberadaan "Seven Pagodas" atau Tujuh Pagoda sebagian besar hanyalah legenda semata. 
    Keberadaan Shore Temple, candi yang lebih kecil dan Rathas hanya membuktikan bahwa daerah tersebut memiliki makna keagamaan yang kuat, tetapi ada sebuah bukti baru yaitu sebuah lukisan dari era Pallava yang menggambarkan sebuah komplek candi.

 
    Ramaswami bahkan menulis secara eksplisit dibukunya tahun 1993 yang berjudul "Candi-Candi di India Selatan", bahwa "Tidak ada kota yang tenggelam di Mamallapuram. Julukan yang diberikan oleh orang Eropa , 'The Seven Pagodas' adalah irasional dan tidak dapat dipertanggungjawabkan". Namun kemudian pada tahun 2002 para ilmuwan memutuskan untuk menjelajahi daerah lepas pantai Mahabalipuram, dimana banyak nelayan Tamil modern yang mengaku telah melihat sekilas reruntuhan di dasar laut. Proyek ini merupakan upaya bersama antara National Institute of Oceanography (NIO, India) dan Scientific Exploration Society, (Vora, Inggris). Kedua tim menemukan sisa-sisa dinding di kedalaman 5 sampai 8 meter, dan 500 sampai 700 meter dari pantai.
     Tata letak dinding tersebut mengisyaratkan bahwa mereka adalah dinding dari beberapa kuil. Para Arkeolog juga mengatakan bahwa dinding tersebut bertanggal kembali ke era Pallava, kira-kira saat Mahendravarman I dan Narasimharavarman I memerintah wilayah tersebut. Para ilmuwan juga menambahkan bahwa situs bawah air mungkin mengandung struktur tambahan dan artefak, dan layak untuk dieksplorasi lebih lanjut di masa depan.
 
Sesaat sebelum tsunami

     Sesaat sebelum tsunami 26 desember 2004 melanda Samudera Hindia, termasuk Teluk Benggala, air laut di lepas pantai Mahabalipuram surut sekitar 500 meter. Banyak turis dan warga setempat yang menyaksikan peristiwa surutnya air laut ini, melihat barisan batu-batu besar yang panjang muncul dari air. Setelah tsunami itu pergi, batu-batu ini tertutup kembali oleh air. Namun, sedimen yang berabad-abad telah menutupinya kini telah pergi. Tsunami juga membuat beberapa perubahan garis pantai, yang menyebabkan beberapa patung dan struktur kecil yang sebelumnya terendam air, ditemukan di pantai.

Candi yang terendam di Mahabalipuram
 
Setelah Tsunami
 
    Kesaksian para saksi yang melihat semacam bangunan sesaat sebelum tsunami, kembali mendorong ketertarikan kalangan ilmiah terhadap situs ini. Mungkin temuan arkeologi paling terkenal setelah tsunami adalah patung batu singa besar, yang muncul di pantai karena perubahan garis pantai Mahabalipuram yang disebabkan oleh tsunami. Patung singa ini ternyata berasal dari abad ke -7. Penduduk setempat dan wisatawan telah berbondong-bondong untuk melihat patung ini tak lama setelah tsunami.




     Pada April 2005, Survei Arkeologi India (ASI) dan Angkatan Laut India mulai mencari di perairan lepas pantai Mahabalipuram dengan perahu, menggunakan teknologi sonar (Das). Mereka menemukan bahwa deretan batu-batu besar yang telah dilihat orang sesaat sebelum tsunami adalah bagian dari dinding setinggi 6 kaki dan panjangnya 70 meter. ASI dan Angkatan Laut juga menemukan sisa-sisa dua candi terendam lain dan satu kuil gua dalam jarak 500 meter dari pantai. Meskipun temuan ini tidak atau belum begitu sesuai dengan mitos tujuh pagoda, setidaknya mereka menunjukkan bahwa sebuah kompleks besar kuil berada di Mahabalipuram. 





     Ini membuat mitos yang selama ini beredar menjadi lebih dekat dengan realitas dan ada kemungkinan lebih banyak penemuan yang menunggu untuk ditemukan. Arkeolog ASI, Alok Tripathi mengatakan kepada The Times of India pada wawancara Februari 2005, bahwa eksplorasi sonar telah memetakan dinding dalam dan luar dari dua candi yang terendam. Dia menjelaskan bahwa timnya belum bisa menunjukkan fungsi bangunan ini. A.K. Sharma dari Angkatan Laut India juga mengatakan kepada The Times of India bahwa tata letak struktur yang terendam ini terkait dengan Shore Temple dan struktur yang tidak terendam lainnya, dan juga cocok dengan lukisan era Pallava tentang komplek Tujuh Pagoda.



     Arkeolog T. Satyamurthy dari ASI juga menyebutkan pentingnya temuan sebuah prasasti yang muncul di pantai setelah tsunami. Prasasti tersebut menyatakan bahwa Raja Krishna III telah membayar para penjaga api abadi di sebuah kuil tertentu. Para arkeolog mulai menggali di sekitar prasasti tersebut ditemukan, dan dengan cepat menemukan struktur candi Pallava lain. Mereka juga menemukan banyak koin dan item yang digunakan dalam upacara keagamaan Hindu kuno. Saat penggalian candi era Pallava ini, para arkeolog juga menemukan fondasi era Tamil Sangam, berusia sekitar 2000 tahun. Kebanyakan arkeolog yang bekerja di situs percaya bahwa tsunami pernah melanda daerah ini kira-kira antara periode Tamil Sangam dan Pallava sehingga menghancurkan kuil tua.

 
 
Subrahmanya temple, salah satu candi yang terungkap oleh sunami 2004.
Dipercaya sebagai salah satu dari 7 Pagoda

     ASI secara tidak sengaja juga menemukan struktur yang jauh lebih tua di situs ini. Sebuah struktur bata kecil, yang sebelumnya tertutup oleh pasir, muncul di pantai setelah tsunami.
Para arkeolog meneliti struktur itu, dan diketahui struktur itu berasal dari periode Tamil Sangam. Meskipun struktur ini tidak cocok dengan legenda tradisional, namun ini menambahkan intrik dan kemungkinan sejarah yang belum tereksplorasi di situs. Pendapat di kalangan arkeolog saat ini adalah bahwa tsunami lain pernah menghancurkan kuil Pallava di abad ke-13. Ilmuwan ASI, G. Thirumoorthy mengatakan kepada BBC bahwa bukti fisik dari tsunami abad ke-13 dapat ditemukan di hampir sepanjang East Coast India.

Sumber:

Rabu, 01 Januari 2014

Indonesia Memilih



    Tahun 2013 sudah berlalu dan berganti dengan tahun 2014. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya negara Indonesia, tahun 2014 adalah tahun dimana seluruh rakyat Indonesia akan memasuki era baru, yaitu era dimana kursi kepemimpinan negara ini atau yang biasa disebut dengan RI 1 akan mengalami pergantian melalui pemilihan umum (PEMILU). Selain presiden dan wakilnya, rakyat Indonesia juga dituntut untuk memilih para wakilnya yang akan duduk di kursi anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Akan tetapi apakah sosialisasi tentang siapa-siapa saja para wakil rakyat yang akan mewakili suara seluruh rakyat Indonesia sudah dapat diketahui profesionalisme, nasionalisme dan elektabilitasnya oleh seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali?

    Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah melakukan berbagai cara untuk mensosialisasikan pemilu 2014. Salah satunya melalui pembagian jaket, helm, dan masker kepada tukang ojek di daerah DKI Jakarta yang bertuliskan "Coblos Yukk". Namun, apakah hal ini efektif untuk mengurangi jumlah pemilih yang golput pada pemilu legislatif maupun pemilu presiden pada pemilu 2014 nanti? Golput yang biasa disebut dengan golongan putih adalah para pemilih yang memilih untuk tidak menggunakan hak pilih mereka yang dikarenakan ketidakpercayaan mereka pada calon-calon wakil mereka maupun calon pemimpin negeri ini untuk mewakili suara-suara mereka. Kurangnya kepercayaan akan kemampuan untuk membawa Indonesia lebih baik dan elektabilitas dari para calon tersebut membuat mereka merasa lebih baik tidak memilih daripada mereka salah memilih.
Hasil Jejak pendapat Kompas menunjukkan Pemilu 1999, partisipasi masyarakat 92,74%, lalu pada Pemilu 2004 turun menjadi 84,07%, dan pemilu 2009 turun menjadi 70,06% - See more at: http://suar.okezone.com/read/2013/09/12/58/864821/golput-bukan-keinginan-rakyat#sthash.divWpuvb.dpuf

    Berikut hasil rekapitulasi suara pemilu 2009 (KPU). Sembilan partai yang memenuhi threshold 2.5% suara nasional adalah:
  1. P Demokrat   : 21,703,137 = 20.85%
  2. P Golkar : 15,037,757 =14.45%
  3. PDIP    : 14,600,091 = 14.03%
  4. PKS   : 8,206,955 = 7.88%
  5. PAN  : 6,254,580 = 6.01%
  6. PPP   : 5,533,214 = 5.32%
  7. PKB   : 5,146,122 = 4.94%
  8. Gerindra   : 4,646,406 = 4.46%
  9. Hanura   : 3,922,870 = 3.77%
    Total suara yang masuk adalah 104.099.785 dari seharusnya sekitar 171 juta hak suara masyarakat. Atau angka golput mencapai 39%. Terlihat bahwa hasil Quick Count yang dilakukan oleh LSI tidak jauh berbeda dengan hasil perhitungan sesungguhnya yakni tidak lebih besar dari 1% untuk tiap-tiap partai.
NB : Persentase angka relatif suara partai politik dihitung berdasarkan jumlah pemilih yang menggunkan hak suaranya yakni (suara partai / (total pemilih sebenarnya – golput))

    Sedangkan hasil perolehan suara absolut yang diperoleh 9 partai diatas dari total jumlah masyarakat yang memiliki hak suara (171 juta) adalah:
  1. Partai “Golput” : 39,1% suara
  2. P Demokrat :  12.7%
  3. P Golkar  :  8.8%
  4. PDIP  : 8.5%
  5. PKS  : 4.8%
  6. PAN  :  3.7%
  7. PPP  :  3.2%
  8. PKB  :  3.0%
  9. Gerindra :   2.7%
  10. Hanura  :  2.3%
NB : Angka absolut berarti total suara yang diperoleh masing-masing partai yang sebenarnya terhadap total pemilih yakni sekitar 171 juta.
Jadi persentase angka absolut suatu partai adalah perolehan suara partai / total pemilih sebenarnya.

    Angka absolut ini tidak mungkin digunakan oleh pemerintah untuk mempersentasekan suara partai yang sebenarnya. Saya berusaha menunjukkan angka ini, agar masyarakat tidak terkecoh dengan persentase suara suatu partai yang dihitung dari (jumlah pemilih sebenarnya – jumlah pemilih golput). Melihat fenomena ini, apakah mungkin jika suara golput yang besar harus dikonversikan dengan pengurangan jumlah kursi di DPR. Jadi, dengan 39% golput, maka kursi di DPR harus dikurangi 39% yakni tinggal 341 kursi dari 560 kursi. Hal ini berdampak pada anggaran, yang akan menghemat sekitar Rp 25 miliar per bulan. Toh, semakin banyak dewan juga belum tentu efektif. Semakin banyak dewan juga belum tentu tidak korupsi, skandal seks, arogan, dan terakhir PEMALAS.
    Dengan memasukkan parameter masyarakat yang tidak dapat memilih karena DPT yang mencapai 10-20 penduduk, maka total golput secara absolut terhadap warga yang memilih hak untuk memilih mencapai sekitar 40%. Artinya gabungan partai-partai besar seperti Demokrat, PDIP, Golkar (totalnya sekitar 29.4%) memiliki dukungan real yang jauh lebih kecil dari jumlah masyarakat yang tidak memilih (golput).

    Berikut daftar “perolehan suara Golput” sejak 1971 (Era Orde Baru)
  • 1971   :  6.64 %
  • 1977   : 8.40 %
  • 1982   : 8.53 %
  • 1987   : 8.39%
  • 1992   : 9.09 %
  • 1997   : 9.42 %
  • 1999   : 10.21 %
  • 2004   : 23.34 %
  • 2009   : 39.1%
Data : 1971-2004 dari Pusat Studi dan Kawasan UGM ; 2009 daridata sementara dari hasil lembaga survei.
    Dari data daftar suara golput, maka sejak era reformasi, jumlah masyarakat yang abstain atau golput meningkat pesat yakni 10.21% pada tahun 1999 menjadi 39.1% di tahun 2009.Angka golput 39.1% jauh melebihi angka partai Demokrat yang menduduki posisi pertama dalam survei yakni 20% suara dari (100%-39% golput). Tampaknya “Partai Golput” menang mutlak. Perlu dicatat, bahwa angka golput bukanlah semata-mata karena apatisme masyarakat, namun pada tahun 2009 ini angka golput tidak hanya saja masyarakat yang apatis, namun KPU dan Pemerintah secara tidak langsung membungkam hak suara rakyat untuk memilih.

    Setidaknya ada 3 faktor utama yang menyebabkan meningkatnya Golput 2009, yakni:
Teknis : Daftar Pemilih Tetap (DPT)
    Salah satu tugas utama KPU dan Pemerintah adalah menyukseskan Pemilu 2009 seperti dalam amanat UUD 1945 serta UU 10 tahun 2008. Namun, ironisnya meski kita telah merdeka lebih 6 dekade dan telah menjalani reformasi lebih 10 tahun, masalah mekanisme pemungutan suara rakyat masih dipersulit oleh birokrasi. Banyak mahasiswa, buruh migran, dan warga pindahan yang seharusnya mendapat hak untuk memilih justru tidak difasilitasi dengan baik oleh KPU. Setidaknya lebih kurang 1 juta mahasiswa di perguruan tinggi, jutaan buruh migran beserta keluarganya di kota-kota, serta warga yang baru pindahan tidak dapat memilih karena dipersulit dalam mengurus DPT, seperti kartu A5. Hal ini pun dialami oleh saya dan kesembilan teman kos saya. Begitu juga ada sekitar 5000-an mahasiswa Unpad, 7-10 ribu-an mahasiswa ITB, ribuan mahasiswa Maranatha, Parahyangan, Unpas, Unisba, Unjani, Itenas dan sejumlah mahasiswa perguruan tinggi di kota Bandung yang berasal dari luar kota Bandung.
Kebanyakan mahasiswa tidaklah apatis, mereka ingin memilih. Namun, saat ini umumnya mahasiswa sedang menjalani masa Ujian Tengah Semester (UTS), dan cukup memberatkan bagi mahasiswa untuk pulang ke kampung halaman untuk memilih atau mengurus kartu A5.
Sikap Apatis
    Tidak sedikit masyarakat yang apatis terhadap golput Pemilu di negeri ini. Umumnya, masyarakat yang apatis adalah golongan masyarakat miskin atau perantaun. Hal ini dikarenakan siapapun partai yang menang, kehidupan mereka tidak berubah dan bahkan kehidupan mereka bertambah miskin atua dimiskinkan. Sehingga, golongan masyarakat ini lebih memilih bekerja daripada libur untuk contreng. Dan angka masyarakat apatis semakin tinggi, dikarenakan banyaknya politisi partai yang mementingkan kepentingan partainya daripada kepentingan masyarakat. Ketika menjelang Pemilu, para petinggi partai gencar menghabiskan puluhan bahkan ratusan miliar untuk iklan janji dan janji. Namun ketika berkuasa, mereka asyiik menggeruk kebijakan yang menghasilkan keuntungan partai.
Konsep Ideologis
    Angka masyarakat yang golput dari ideologis tidak  meningkat sepesat masyarakat apatis ataupun terkendala masalah teknis. Umumnya masyarakat golongan ideologis golput berasal dari kalangan cendekiawan level atas yang alasan sistem politik yang buruk hingga landasan religius. Kebobrokan dan skandal yang sering disiarkan media TV semakin menguatkan keyakinan ideologis masyarakat ini yang mengatakan “memilih partai berarti memilih keburukan, karena tidak ada partai yang baik dan benar”.

    Dari hasil pemaparan diatas, apakah jumlah suara untuk partai "Golput" akan berkurang atau malah meningkat? Semua balik lagi ke masing-masing individu, apakah akan menggunakan hak pilihnya atau tidak, karena tidak ikut memilih adalah sebuah pilihan juga walaupun itu terkesan tidak bijak.

Sumber

Hasil Jejak pendapat Kompas menunjukkan Pemilu 1999, partisipasi masyarakat 92,74%, lalu pada Pemilu 2004 turun menjadi 84,07%, dan pemilu 2009 turun menjadi 70,06% - See more at: http://suar.okezone.com/read/2013/09/12/58/864821/golput-bukan-keinginan-rakyat#sthash.divWpuvb.dpuf
Hasil Jejak pendapat Kompas menunjukkan Pemilu 1999, partisipasi masyarakat 92,74%, lalu pada Pemilu 2004 turun menjadi 84,07%, dan pemilu 2009 turun menjadi 70,06% - See more at: http://suar.okezone.com/read/2013/09/12/58/864821/golput-bukan-keinginan-rakyat#sthash.divWpuvb.dpuf
Hasil Jejak pendapat Kompas menunjukkan Pemilu 1999, partisipasi masyarakat 92,74%, lalu pada Pemilu 2004 turun menjadi 84,07%, dan pemilu 2009 turun menjadi 70,06% - See more at: http://suar.okezone.com/read/2013/09/12/58/864821/golput-bukan-keinginan-rakyat#sthash.divWpuvb.dpuf
Hasil Jejak pendapat Kompas menunjukkan Pemilu 1999, partisipasi masyarakat 92,74%, lalu pada Pemilu 2004 turun menjadi 84,07%, dan pemilu 2009 turun menjadi 70,06% - See more at: http://suar.okezone.com/read/2013/09/12/58/864821/golput-bukan-keinginan-rakyat#sthash.divWpuvb.dpuf